Untuk mengembalikan kita kepada pola interaksi yang benar terhadap Al-Qur'an, sehingga Al- Qur'an kembali menjadi sumber kekuatan untuk membangun peradaban, ada beberapa kiat kiat sangat perlu kita wujudkan, antara lain:
1.Tilawah wa Tartil (selalu membaca dengan benar)
- Dengan membaca secara berkesinambungan akan menambah iman kepada Allah Swt, (Al- Anfal [8] : 2) akan mendatangkan petunjuk , menjadi obat berbagai penyakit di dada, serta rahmat dan nasihat (Yunus [10]: 57).
- Suka membaca Al-Qur an merupakan standar mutu keimanan (Al-Baqoroh [2] : 121). Dan akan menambah kebaikan yang banyak, baik dalam keadaan miskin maupun kaya (Al- An'am [6] : 92) serta menambah ilmu (Al-'Alaq [96] : 1-5, An- Nisa [4] : 174).
- Membaca secara tartil akan mendatangkan perkataan yang berbobot (Al-Muzzamil [73] : 5), melepaskan manusia dan belenggu kesesatan (Al-Jumu'ah [62] : 2), mencerahkan pikiran dan hati yang kalut (Al-Maidah [5]: 15), serta merasakan kegembiraan dalam menghadapi fluktuasi kehidupan (Al- Baqoroh [2] : 7)
- Membaca secara berkelompok akan mendatangkan ketenangan, rahmat serta syafa'at dihari kiamat (HR Bukhoni & Muslim)
2. Tadabbur (merenungkan kandungannya)
- Bertadabbur Qur'an dapat membuka hati untuk menerima petunjuk Allah SWT (Muhammad [47] : 12) dan mendapatkan pelajaran (Shad [38] : 29).
- Umar bin Khathab memperoleh lailatul qadr (waktunya sebentar, tetapi dapat merubah jalan kehidupannya) ketika merenungkan surah (Thaahaa [20]: 1-4) dari tangan adiknya Fatimah.
- Fudhail bin 'lyadh mantan kcpala perampok bertaubat dan menjadi ahli hadist yang alim dan wara' setelah tersentuh ayat Al-Qur an Surat Al-Hadid [57] : 16.
- Yang membaca Al- Qur an dengan tidak tadabbur akan mendatangkan bencana (Al-Mukminun [23]:69).
3.Hifz (menghafalkan)
- Sulit menghafal Al-Qur an karena banyak melakukan dosa (Kisah Imam Syafi'i dengan gurunya Waki')
- Hafalan Al-Qur an akan mengembangkan saraf otak (Penelitian di Universitas Munich, jerman)
- Al-Qur an mudah di bafal sekalipun bukan berasal dan bangsa arab, karena kata-katanya, huruf-hurufnya serta susunan kalimatnya sesuai dengan fitrah mamisia (Al- Qomar [54]: 17,22,23,40).
- Penghafal Al- Qur an tidak akan pikun dan setelah meninggal jasadnya di haramkan oleh Allah SWT untuk dilukai bumi.
4. Ta'lim (mengajarkan)
- Manusia terbaik adalah yang mempelajari Al-Qur an dan mengajarkannya (HR.Bukhori)
- Generasi yang sangat dekat dengan Allah SWT adalah yang tidak berhenti belajar dan mengajarkan Al- Qur an (Ali- Imran [3] : 29).
- Allah SWT yang mengajarkan Al-Qur'an kepada Nabi Muahmmad SAW dengan sistem talaqqi (Ar- Rohman [55]: 1-2), (Al- 'Alaq [96]: 1-5), (AlQiyamah [75]: 16-19).
- Ilmu yang diamalkan akan bertambah (Riwayat Abu Syaikh).
5.Istima' (senantiása mendengarkannya)
- Yang senang mendengarkan Al-Qur'an adalah manusia pilihan Allah SWT (Thaahaa [20]: 13), yang akan mendapatkan rahmat (Al-'Araf [7] : 203), kebaikan (Al-Anfal [8] : 23), dan kemenangan (Futhshilat [41] : 26), sertan diberi kabar gembira (Az-Zumar [39] :18).
- Orang yang tidak suka mendengarkan Al-Qur an cenderung menutup diri (meng-cover diri), sehingga jauh dari petunjuk, sebagaimana Umat Nabi Nuh AS (Nuh [71] : 7).
- Pendengaran adalah salah satu media masuknya petunjuk Allah SWT (As-Sajadah [32] :9).
- Allah SWT memberikan satu mulut dan dua telinga adalah untuk mendidik manusia agar sedikit berbicara dan banyak mendengar (Perkataan Ahli Hikmah)
- Mendengarkan wahyu akan mendatangkan ketentraman jiwa, kesucian hati, menghilangkan gangguan syaitan, menguatkan jiwa, dan meneguhkan langkah kehidupan (Al-Anfal [8] :11).
6.At Talaqi Lil 'Amal (Menerima untuk diamalkan)
- Hanya Al-Qur an yang harus jadi rujukan (referensi), supaya pola pikir, orientasi, hati, hanya diwarnai oleh nilai-nilai ilahiyah.
- Umar bin Khathab ketika membaca lembaran Taurat disuruh membuang Taurat itu oleb Nabi Muhammad SAW, dan mengingatkan bahwa sekiranya Nabi Musa AS masih hudup, niscaya beliau akan mengikuti Al-Qur an.
- Mengamalkan secara bertahap agar ringan mengamalkannya dan lebih mantap di dalamjiwa (Al-Isra [17] : 105-106), (Al-Furqon [25] : 32).
- Pola penerimaan Al-Qur'an (manhaj talaqqi) seperti di peragakan oleh generasi awal ummat ini telah melahirkan generasi Qur'ani yang unik dalam waktu kurang dan seperempat abad, antara lain terlihat dari jumlah sahabat sekitar 125.000 orang, 112 orang diantaranya menjadi ulama terpenting, dan 7 orang diantaranya menjadi ulama besar (Khulafa Urrasyidin, lbnu Abbas, Ibnu Mas'ud, dan lbnu Umar).
- Dengan ber-ittiba' (mengikuti) dan ber- ta-assi (berteladan) dalam pola berinteraksi dengan Al-Qur an seperti generasi terbaik, ummat inii akan semakin semangat beribadahnya (Yazdadu Fil 'ibadah), bertambah ilmu (Yazdadu Fil 'ilmi), berubah pola pikir, perasaan, sikap mental dan akhlaq (Yughoyyir Khuluqahu), senantiasa melipat tempat tidur di malam hari untuk bermunajat kepada Allah SWT (Yathwi Firasyahu), berubah cara berpakaian (Yughayyir Libasahu).
7.Tahkim (Menjadikannya sebagai pemutus perkara)
- Tidak keberatan menerima Al-Qur'an sekalipun bertentangan dengan keinginannaya (An-Nisa [4] : 64) dan sami'na wa atha'na (mendengar dan mengerjakan terhadap keputusannya (An-Nur [24] : 51). Ketaatan terhadap Al-Qur an mendatangkan rezeki yang berlimpah (Al-A'rof [7] : 96), dan bisa menghidupkan jiwa (Al-Anfal [8] :24).
- Berpaling dari Al-Qur'an akan mendatangkan bencana yang datang secara tiba-tiba, di malam hari saat sedang tidur nyenyak, di waktu pagi ketika sedang bermain (Al-'arof[7] : 97-98) dan menjadikan kehidupan ini serba sulit (Thaha [20] : 124).
- Yang keberatan menenima Al-Qur an hanyalah yang hatinya telah berkarat, kesal, dan keras membatu (Az-Zumar [39] :45).
8.Manhaj Al Hayah (Dijadikan acuan kehidupan)
- Manhaj Al-Qur'an solusi kehidupan individu, keluarga, dan masyarakat (Al-Maidah [5]: 51).
- Manhaj yang di serap dari Al-Qur'an mengumpulkan kualitas ilmu dan ketaqwaan (Yusuf [12]: 108).
- Mengembalikan seluruh persoalan kepada ahlu dzikir dan ahlul Qur'an (An-Nahl [116] :43).
- Yang menjadikan Al-Qur an tidak sebagai acuan kehidupannya akan di timpa kehinaan (Al-Baqarah [2]: 61).
- Jika mengganti Al-Qur'an dengan acuan kehidupan yang lain, akan mengakibatkan jatuh terpuruk di Iembah kebinasaan (Ibrahim [141] : 28).
- Ambil Al-Qur'an secara keselurühan atau tinggalkan sama sekali (An-Nisa [4]: 150), tidak boleh sepotong-sepotong (Al-Baqarah [2] :208), dan karena kepentingan serta keuntungan pribadi (AI-Hajj [22] : 11).
- Berpegang teguh dengan Al-Qur an akan melahirkan individu yang bermutu (Hayatan Thayyiban), keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah (Baiti Jannatii), perkampungan yang di berkahi (Qaryah Mubarakah), penduduk negri yang aman (Baladan Aminan) dan negara yang makmur penuh ampunan Allah SWT (baidatun thayyibatun wa rabbun ghafiir),
Sungguh , hidup ber-Qur'an harus menjadi agenda terbesar dalam hidup kita, karenanya, Iangkah-langkah di atas tidak boleh kita anggap sepele. Kesungguhan kita dalam menjalani semua itulah yang akan menjadi kunci terkabulnya do'a Khataman Al-Qur'an yang indah.
Dikutip dari salahsatu majalah Islam dengan perubahan seadanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar